Pages

Showing posts with label triumph iso. Show all posts
Showing posts with label triumph iso. Show all posts

Saucony Triumph ISO 2

Tuesday, 5 January 2016


Triumph ISO dari Saucony adalah salah satu sepatu favorit saya hingga saat ini. Saya sudah berlari 300Km menggunakan sepatu tersebut sejak pembelian dan merupakan sepatu yang saya gunakan untuk mencetak PB 5K saat Nutrilite Health Run dulu.

Kelebihan Triumph ISO ini bagi saya terletak pada fitur ISOFIT yaitu upper dari sepatunya dibuat seperti "memeluk" sockliner sepatunya, mengingatkan saya pada sepatu Nike Presto jaman dulu. Walaupun tebal, Triumph ISO sangat adem saat dipakai dan rasanya ringan. Dan akhirnya Saucony mengeluarkan juga versi kedua dari Triumph ISO ini.

Kalau dibaca di reviewnya, kelihatanya perbedaannya tidak terlalu signifikan, kali ini Saucony memperkenalkan teknologi EveRun yang juga digunakan pada Kinvara 6. Sepintas sih mirip sama Boost milik Adidas. Saya pribadi sudah cukup puas dengan Triumph ISO yang sudah cukup cushy dan responsive. Dari reviewnya, ISO 2 ini lebih kepada minor update untuk seri Triumph ini. Anyway, colorway nya lebih kalem dari pada yang saya punya siyh, orange-lime.

Silahkan menuju ke web Solereviewnya untuk lebih lengkapnya !



Read more ...

Jakmar 2015 Training : 10K new PB

Sunday, 19 July 2015
Kelanjutan dari training sebelumnya, saya masih struggling buat mencapa target Half Marathon pace saya. Masih ada beberapa bulan dan saya belum "memasuki" HM pace training dalam jarak lebih dari 10K.

Malam minggu kemarin, saya pun memutuskan untuk melakukan speed training. Seperti biasanya, saya selalu memasukkan minimal 1 sesi hard training seperti tempo run, interval, atau lainnya untuk menaikkan VO2 Max ataupun menaikkan strength level saya.

Tempo run yang pernah saya lakukan sebelumnya adalah sejauh 5K dengan average pace di 5:20 min/km. Jadilah saya mencoba untuk "berlari lebih jauh" dengan target pace 10 - 20 detik lebih lambat. Setelah pemanasan 10 menit dan dynamic warm up, saya pun mulai lari dengan mindset pace 5:30 - 5:40 min/km.

Kilometer awal seperti bisa tidak ada masalah, napas masih teratur dengan baik dan pace juga bisa terjaga diatas target. Karena rute lari saya ini bentuknya serupa stadion sepanjang 700m alias hanya muter-muter disana aja, ada satu bagian sisi panjangnya yang anginnya melawan arah, lumayan juga agak ngegas waktu melewati bagian ini, tapi bukan isu yang penting lah.

Masuk KM 5, mulai ada godaan-godaan yang membisikkan udah yuk, segini aja udah bagus koq..hehehee Form check...masih oke, kaki masih rileks, napas udah mulai agak ke tenggorokan tapi ritme masih terjaga..lanjut terus. Yang sempat jadi perhatian saya adalah cadence, karena saya tidak pakai metronome atau device yang bisa mendeteksi cadence, saya hanya mengandalkan feeling aja untuk memutuskan ini terlalu cepat atau terlalu mengambang. Maksudnya mengambang adalah, seakan-akan, saya mencoba membuat badan saya melenting / melayang kedepan, tapi effortnya adalah ground contact kaki saya (sepertinya) jadi lebih lama. Nah, di sesi ini juga saya mencoba untuk jarang-jarang ngintip jam untuk liat pace. Saya mencoba untuk merasakan pace saya, seperti yang suka kita temukan di internet, comfortable pace itu seperti apa, ya kita yang harus merasakannya.

KM 6 - 8, badan sudah benar-benar panas namun memang napas masih mampu. Pola 2 - 3 pun masih bisa saya terapkan. Kalau rasanya dah di ujung tenggorokan, saya pun perlambat cadence saya dan ngejar napas. Saat ngintin jam, pace 5:15 - 5:20 masih bisa saya tahan hingga sejauh ini!

Final KM! dengan lintasan 700m per lap, 2 kilometer berarti 3 putaran terakhir. Saya pun tetap atur napas dan cadence, pace masih ok dan badan masih rileks. Saya masih bisa rasakan badan belum dipacu maksimal (sepertinya lho ya) sehingga masih aman untuk bulatkan ke 10KM. Putaran terakhir alias 700 meter saya rubah pola napas ke 1 - 2..sekalian mencoba latih pola napas ini untuk cadence yang lebih cepat. Rasanya masih terengah saat menarik napasnya, karena tarikan 1 itu cepat sekali apalagi kalau pace relatif cepat. KM 10 pun saya capai dengan short sprint dan PB terbaru 52:46 pun saya capai dari sebelumnya 55:13 !


Rata-rata pace adalah 5:16 min/km... split per KM seperti tabel dibawah:


"drop pace" terjadi karena saya harus mengikat kembali tali sepatu...huh..

Kesimpulan sementara: untuk sub 2:00:00 HM time, kelihatannya masih bisa lah tercapai. Yang perlu saya latih adalah muscle strength saya, karena terasa juga nyeri di kaki setelah sesi ini. Plus pernapasan 1 -2 ini kelihatannya harus lebih sering saya latih, mungkin dengan interval training.



Read more ...

Saucony Triumph ISO: neutral shoes untuk kaki flat

Monday, 11 May 2015



Setelah pembeliannya pada saat saya ke Singapura beberapa minggu yang lalu untuk "mengambil" medali Finisher 2XU, saya akan menulis user experience dari sepatu yang saya beli disana, Saucony Triumph ISO. Hingga post ini ditulis, mileage sepatu tersebut sudah hampir mencapai 100 km, dan menurut saya sudah cukup lah untuk direview :)

Full review dari sepatu ini bisa dilihat di website Solereview seperti biasanya. Beberapa foto disini pun saya ambil dari sana.


Saucony_Triumph_ISO

Sepatu ini adalah sepatu tipe neutral saya yang pertama, dan saya tidak menyesal mengambil "jalan" ini. Maksudnya apa? Jadi begini, berdasarkan uji kertas basah yang saya lakukan, saya menemukan bahwa tipe kaki saya adalah mild overpronate. Oleh karenanya, tipe sepatu yang disarankan adalah sepatu yang berlabel Stability, Motion Control dan sejenisnya. Apa hubungannya, akan saya ceritakan belakangan..

Kembali ke sepatunya...

Selain ini, sepatu saya sebelumnya adalah Nike Lunar Glide 5, kemudian ditambahkan Asics GT-2000 v2. Kedua sepatu itu bagi saya bagaikan bumi & langit... bertolak belakang, walaupun performanya sama-sama mengesankan.

Nike LG5 bagaikan kaus kaki ber-sol di kaki saya.. saya suka berlari dengan sepatu ini, teknologi flywire dan lapisan upper yang tipis membuat sepatu ini ringan sekali. Lain halnya dengan GT-2000.. sepatu ini seperti speed tank! lapisan upper yang tradisional khas Asics membuat sepatu seakan-akan melekat dan mengikat kaki, dan ride yang lebih stabil dari LG5 plus nyaman buat dipakai long run.

Saya suka GT-2000, tapi feathery feel yang saya dapat di Lunarglide masih terasa di kaki saya.. dan Saucony Triumph ini persis menjembatani kedua sepatu saya tadi. Triumph ISO ini adalah jajaran terbaru dari Saucony tipe Triumph (di pasaran, kita sudah ngga asing dengan Saucony Kinvara, Ride, Guide dll). Label ISO digunakan untuk penanda teknologi terbaru ISO Fit pada upper sepatunya.



Saucony_Triumph_ISO

Menurut saya, ISO Fit ini agak berbeda dengan flywire milik Nike. Flyknit adalah sistem pengikat upper shoe dengan sol nya, sehingga upper sepatunya bisa dibuat setipis mungkin, bahkan dirajut seperti pada tipe Flyknit. ISO Fit membuat upper sepatu kita mengikuti bentuk dan pola gerak kaki. Gimana ya menggambarkannya.. memakai sepatu Saucony ini, saya tidak perlu mengikat talinya terlalu kencang, tapi tetap saat berlari, rasanya kaki saya dipegang dengan nyaman sama sepatunya..gimana tuh.

Cushioning, sepatu ini punya banyaak sekali cushion!kalau diliat sepintas di fotonya sepertinya sama saja dengan beberapa sepatu di pasaran, apalagi kalau dibandingkan dengan Hoka One One Bondi 4 yang pernah saya lihat di Suka Outdoor tempo hari, namun saat dipakai, cushioning nya empuk dan bouncy sekali. Saya jadi ingin membandingkannya dengan jajaran Adidas BOOST yang notabene harganya relatif lebih mahal. Salah satu plus point bagi saya terhadap sepatu ini dibandingkan lainnya adalah luasan rubber sole yang ada dibawah cushion nya...hampir seluruh telapak sepatunya dilapisi karet! Beberapa review juga mengatakan bahwa durability rubber sole nya sangat baik. Dari pemakaian saya sendiri, grip sol nya kuat sekali dan hampir tidak pernah slip saat saya berlari.


Saucony_Triumph_ISO

Waktu saya akan membeli sepatu ini, saya juga mencoba beberapa sepatu lain seperti Saucony Hurricane ISO, Asics Gel Noosa Tri 10, Puma Ignite. Dari sepatu tersebut, overall feel dan cushion hampir sama, apalagi Hurricane ISO yang merupakan versi stability dari sepatu Triumph ini. Puma Ignite hampir mendekati level of cushion sepatu Triumph, bahkan kalau dipakai heel-strike aja masih enak..






Satu "win factor" dari sepatu Triumph ISO ini adalah, saat saya melakukan forefoot strike, sol sepatunya tidak terasa nampar balik ke kaki saya, seperti Nike LG5. Ini masih saya rasakan di Puma Ignite, sehingga harus tereliminasi dari list nya. Triumph ISO adalah cushion shoes dari depan ke belakang, grip dari depan ke belakang.. seperti cheaper version of Hoka One One :)). Walaupun rubber sole nya banyak, transisi dari fore to toe sangat smooth dan terasa grip ke jalan.







The Stability thingy previously

Nah, seperti yang saya tulis sebelumnya, Saucony Triumph ISO ini adalah  sepatu Neutral pertama saya untuk tipe kaki yang diasumsi adalah overpronate. Saya akui bahwa mengambil sepatu ini seperti setengah gambling terhadap uang yang saya keluarkan untuk mengoptimalkan sepatu ini. Resikonya adalah kalau sepatu ini ngga nyaman dan malah bikin cidera, berarti keputusan saya salah.

Dari diskusi dengan crew yang ada di toko I-Run tempat saya mencoba dan membeli sepatu, mereka sebenarnya lebih prefer untuk saya mengambil Saucony Hurricane ISO atau Asics Gel Kayano 21 (d'uh...) karena melihat postur kaki saya. Tapiiii...setelah mereka melihat gerakan berlari saya di treadmill dan terlihat pola strike saya adalah fore-to-midfoot strike, menurut mereka tidak masalah untuk orang yang berlari menggunakan teknik fore/midfoot strike untuk menggunakan neutral shoes, karena pada area tersebut sepatu neutral dan stability tidak memiliki perbedaan konstruksi apapun. Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga sih ya, karena perbedaan mendasar dari sepatu neutral dan stability adalah pada sisi medial (sepatu bagian dalam) terdapat stiff cushion yang pada saat berlari akan "mengganjal" kaki agar tidak terlalu berputar (rolling) kedalam.

Jadi setelah pemakaian hampir 100km dan saya gunakan saat Nutrilite Health Race 2015 kemarin, Triumph ISO ini sangat nyaman dan cocok untuk saya, sebagai daily trainer maupun racing shoes saya untuk saat ini.

Jadi kesimpulannya, kalau anda mencari sepatu neutral yang ringan, cushy dengan upper sole yang sangat nyaman digunakan, boleh lah mencoba Saucony Triumph ISO ini. Performanya sama seperti yang diiklankan... WHOA!

Kalau ada yang lebih tertarik untuk membaca mengenai neutral & stability shoes ini, ada beberapa referensi yang bisa dibaca disini, dan disini juga 



whoa! 


Read more ...